42 Kasus Positif Covid-19, Lampung Masih Zona Hijau namun Perketat Penjagaan

LIDIK.ID, BANDAR LAMPUNG – Seperti yang dikataka oleh Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Lampung Reihan dalam video persnya. Kasus positif corona telah mencapai 42 kasus. Meski begitu, Lampung masih belum masuk kategori daerah zona merah. Hal ini dikarenakan kasus yang bertambah bukan kasus transmisi lokal.

Meski begitu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung, Provinsi Lampung, tetap memperketat penjagaan di perbatasan bagi kendaraan yang akan masuk ke wilayah tersebut. Kebijakan ini dilakukan meski Bandar Lampung masih berstatus zona hijau virus Corona (COVID-19).

Baca Lainnya

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandar Lampung Ahmad Husna, Sabtu (25/4), Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 tentang pembatasan kendaraan dari dan ke zona merah tidak diberlakukan di sini. Namun pihaknya tetap akan mendata dan mengecek kendaraan yang melintas di wilayah mereka.

“Di sini masih zona hijau dan belum zona merah. Jadi, untuk mengantisipasi itu, sesuai perintah Wali Kota Bandar Lampung Herman HN, kami lebih pada pengecekan dan pendataan kendaraan yang ingin masuk serta mensterilisasinya,” ujar Husna seperti dikutip dari Antara, Sabtu (25/4/2020).

Hal ini juga sekaligus menjawab pertanyaan masyarakat tentang pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang belum berlaku di Lampung. Sekali lagi, hal ini dikarenakan kasus Covid-19 di Lampung bukanlah transmisi lokal.

Selain itu, Husna juga mengatakan dalam upayanya tersebut, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait dan pihak keamanan. Sementara untuk memulangkan kendaraan berplat daerah luar, Husna mengatakan kemungkinan nanti akan dilakukan pihak kepolisian.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Bandar Lampung, Ahmad Nurizki, mengatakan, terkait instruksi larangan mudik oleh pusat, Wali Kota Bandar Lampung telah mengikutinya dengan mengeluarkan surat edaran.

Di lain sisi, Kepala Terminal Induk Rajabasa, Denny Wijdan, mengatakan larangan mudik sudah jelas akan mempengaruhi jumlah frekuensi kedatangan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan bus antarkota dalam provinsi (AKDP) ke sana.

Ia mengatakan, sejak H-1 puasa, kondisi Terminal Induk Rajabasa terpantau sepi dan penurunan jumlah penumpang AKAP saat ini mencapai 88,25 persen, sedangkan AKDP sebesar 65 persen.

“Penurunan ini memang terjadi sejak Maret 2020, saat virus ini mulai mewabah di Indonesia,” kata Denny.

Pemerintah sebelumnya resmi melarang mudik Lebaran 2020 dan efektif berjalan pada Jumat (24/4). Aturan mengenai larangan mudik tertuang dalam Permenhub Nomor 25 Tahun 2020.

Meski begitu, larangan masuk ke kota Lampung hanya berlaku bagi kota yang tergolong zona merah. Pelabuhan bakauheni tetap dibuka selama penumpang tak pergi atau datang dari zona merah Covid-19.

BeritaTerkait

Discussion about this post