Ekuador Menjadi Seram Akibat COVID-19, Mayat Terlantar di Jalan

LIDIK.ID, Guayaquil – Amerika menjadi benua dimana negaranya memiliki kasus COVID-19 terbanyak di Dunia. Banyaknya korban berjatuhan membuat petugas medis kewalasan untuk menangani pasien dan jenazah korban virus corona. Tak hanya itu, bahkan beberapa kota di negara bagian krisis peti mati hingga terpaksa mereka menggunakan peti mati kardus hingga ditelantarkan begitu saja di pinggir jalan.

Kejadian ini terjadi di Negara di Amerika Tengah tepatnya Guayaquil, Ekuador. Tenaga medis benar-benar babak belur dihajar virus Corona. Pemandangan menyeramkan terlihat di berbagai sudut kota gara-gara pandemi COVID-19. Di pojok Kota Guayaquil, masyarakat dapat melihat mayat digeletakan begitu saja.

Mayat hingga peti jenazah bergeletakan di jalanan saat pandemi Corona (Covid -19). Begini penampakannya. Foto: Getty Images
Mayat hingga peti jenazah bergeletakan di jalanan saat pandemi Corona (Covid -19). Begini penampakannya. Foto: Getty Images

Pada Selasa (7/4), Ekuador tercatat memiliki 3.995 kasus yang dikonfirmasi. Setidaknya ada 220 kematian yang dilaporkan secara resmi. Selain itu 182 orang juga dilaporkan meninggal terkait dengan virus itu.

Laporan New York Times menyebut bahwa informasi dokter mengatakan tidak ada cukup tes di negara ini. Hal ini sangat sulit untuk mengidentifikasi dan mengisolasi orang sakit untuk mencoba menghentikan penyebaran COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus – serta terlalu sedikit tempat tidur dan ventilator rumah sakit.

 

Seorang pria melihat ke arah jenazah yang tergeletak selama tiga hari di luar sebuah klinik di Guayaquil, Ekuador, Jumat (3/4/2020). Di Guayaquil, banyak dijumpai jenazah korban virus corona COVID-19 yang terlantar di jalanan. (Str/Marcos Pin/AFP)

Bahkan terlihat jahad terbungkus plastik terpal, sudah bengkak dan dikerumuni lalat. Jasad itu adalah tetangga seorang pria yang dilewati Rosangelys Valdiviezo saat berjalan pulang dari kantor, meskipun mereka tak perna bertegur sapa.

Jasad itu berbaring di depan rumahnya, salah satu dari sekian jasad yang tak terhitung bergelimpangan di jalan-jalan Guayaquil, Ekuador, sebuah kota Amerika Selatan yang terik yang terdampak Virus Corona COVID-19.

Valdiviezo, seorang pekerja makanan laut berusia 30 tahun, mengatakan jenazah-jenazah itu berada terpanggang panas tropis selama enam hari.

“Saya sangat takut,” kata Valdiviezo, seorang migran Venezuela yang pindah ke Guayaquil, melalui telepon. “Aku takut sekarat begitu jauh dari rumah.” lanjutnya seperti yang dikutip liputan6.

Kota terbesar Ekuador yang dihuni hampir 3 juta orangitu muncul sebagai pusat penyebaran Virus Corona baru di Amerika Latin. Diketahui dalam akun berita lokal, video yang dibagikan di media sosial dan wawancara telepon, pejabat, pekerja bantuan, dan lainnya di kota metropolitan yang miskin melaporkan jasad bergelimpangan dihinggapi lalat di trotoar. Termasuk jenazah yang ditinggalkan di dalam rumah selama berhari-hari.

(Foto:Getty Images)

Banyak keluarga mengatakan orang yang mereka cintai memiliki gejala virus, sementara yang lain hanya tahu bahwa yang sakit tidak dapat dirawat di rumah sakit Guayaquil karena sudah penuh. Hal ini membuat ketidak jelasan akan jumlah korban yang meninggal karena COVID-19 ini.

Seorang warga bernama Fernando Espana mengeluh tentang perjuangannya meminta pihak berwenang menjemput anggota keluarganya. Bahkan mereka sudah menunggu hingga ima hari dan tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu karena lahan pemakaman juga penuh.

Belum tahu pasti kapan kesedihan ini akan segera berakhir. Pemerintah Ekuador mengingatkan bahwa hingga 3.500 orang bisa meninggal karena wabah ini dalam beberapa bulan mendatang. Karena kondisinya separah ini, pemerintah sampai memohon maaf ke rakyat.

Tak cukup jubir yang meminta maaf, Wakil Presiden Ekuador Otto Sonnenholzner juga meminta maaf. “Kami telah melihat gambar yang seharusnya tidak pernah terjadi dan sebagai pelayan publik, saya minta maaf,” kata Sonnenholzer dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media lokal pada Sabtu (4/4), dilansir AFP.

Institut Jaminan Sosial Ekuador, yang mengelola Teodoro Maldonado Carbo, mengatakan pada hari Sabtu di Twitter bahwa pihaknya telah mendisinfeksi semua area rumah sakit untuk menjamin keselamatan pasien dan profesional medis.

Pada hari Sabtu, pemerintah Ekuador mengatakan akan mengaktifkan sistem digital baru yang akan memungkinkan keluarga untuk mencari tahu di mana kerabat mereka yang meninggal dikuburkan.

Mengutip France24, pemerintah Ekuador dilaporkan telah mulai menyimpan jenazah para korban Virus Corona jenis baru dalam tempat pendingin raksasa. Karena ratusan kematian di Kota Guayaquil, pusat wabah negara itu, telah mengakibatkan kamar mayat dan rumah sakit penuh.

 

 

 

Discussion about this post