Karyawan Travel Diamankan Polisi, Terjerat Kasus Pemalsuan PCR di Bandara Kualanamu

LIDIK.ID , Sumatera Utara – Seorang karyawan travel berinisial A (41) diamankan oleh polisi, lantaran melakukan pemalsuan hasil PCR test di Bandara Kualanamu, Deliserdang, Sumatera Utara. Sabtu, (22/10).

Dilansir dari CNN penangkapan tersebut juga telah dibenarkan oleh Wakapolresta Deliserdang AKBP P Julianto Sirait.

“Benar, 1 orang ditangkap dan telah ditetapkan sebagai tersangka,” ujarnya. Jum’at, (22/10).

Adapun, pengungkapan kasus ini bermula pada saat petugas bandara memeriksa hasil PCR test milik calon penumpang berinisial DNS, pada hari Selasa (19/10) pukul 15.00 WIB di terminal lantai 2 Bandara Kualanamu.

Saat diperiksa hasil PCR test milik DNS berasal dari Klinik Jemadi dan tertulis tes dilakukan pada hari Senin (18/10).

“DNS diamankan karena memperlihatkan surat hasil pemeriksaan PCR test yang diduga palsu,” jelas Julianto.

Kemudian saat dikonfirmasi ke Klinit Jemadi, dikatakan pihak mereka tidak pernah membuat surat hasil PCR test atas nama DNS.

Akhirnya diakui oleh DNS, ia membuat surat tersebut kepada seorang karyawan travel di Bandara Kualanamu, berinisial A dan polisi langsung mengamankan pelaku.

“Modus tersangka saat beraksi, mengamati gerak-gerik DNa yang tampak kebingungan, karena belum memiliki surat test PCR,” kata Julianto.

Kasatreskrim Polresta Deliserdang, Kompol M. Firdaus juga menyampaikan A mengambil kesempatan untuk menawarkan jasanya membuat swab PCR, dan menjamin keamanan pelanggan sehingga calon penumpang tersebut percaya.

“Tersangka lalu membuat swab yang diduga palsu dan 1 jam kemudian memberikan kepada calon penumpang tersebut sebelum berangkat ke Jakarta,” ujarnya.

Berdasarkan pengakuan A, ia baru melakukan tindak pidana pemalsuan ini selama 2 kali, tapi petugas masih terus mendalami kasus ini.

“Pertama seminggu yang lalu tepatnya pada tanggal 12 Oktober dan yang terakhir pada tanggal 19 Oktober 2021, yang pertama berhasil berangkat dengan harga penjualan Rp 750 ribu,” jelas Firdaus.

Akibat perbuatannya, A terancam hukuman pidana 10 tahun penjara dengan jeratan Pasal 263 KUHP dan UU Karantina Kesehatan.

(MYG)

Discussion about this post