Kejadian Pilu India di Masa Karantina (Lockdown) Hingga Menelan Korban Jiwa

LIDIK.ID, New Delhi – Wabah corona yang semakin menjadi membuat pemerintah India memutuskan untuk lockdown sejak Selasa (24/3/2020) sampai 21 hari ke depan. Namun, belum seminggu lockdown, sudah terjadi kekacauan besar di negara itu.

Beberapa hal yang disebabkan akibat lockdown di india antara lain adalah transportasi terbatas hingga pekerja migran mudik dengan berjalan kaki sejauh ratusan kilometer. Selain itu, pabrik-pabrik di India juga ditutup, akibatnya, banyak buruh kehilangan pekerjaan dan tidak punya cukup uang, karena upah mereka dibayar secara harian.

Kisah pilu lainnya diketahui dari seorang suami yang tak mampu membayar mobil ambulance hingga harus mengantar sang istri yang terluka akibat kecelakaan kerja dengan sepeda sejauh 12 km. Pria ini menggendong istrinya dari Bharat Nagar ke Kanganwal untuk mendapat pengobatan ke rumah sakit.

Akibat lockdown di negara itu banyak warga yang kesulitan mendapat makanan, penduduk di Negara Bagian Goa, India, protes karena pengiriman pasokan bahan makanan tidak merata di masa penguncian wilayah lockdown selama 21 hari untuk menekan penyebaran virus corona. Seorang penduduk lainnya, Srikrishna Hardalnkar, mengatakan mereka sudah menunggu dengan sabar pengiriman pasokan bahan makanan tersebut. Namun ternyata tak kunjung tiba.

Alhasil, para penduduk mengirim surat protes yang diteken warga dari kawasan utara hingga selatan kepada Menteri Besar Goa, Parimal Rai.

“Para penduduk di jalanan kekurangan informasi dan bingung akibat pengumuman perubahan yang terus menerus terjadi soal pasokan bahan makanan dan jasa, dan sampai saat ini tidak ada sistem yang nyata untuk bisa mendapatkan makanan. Negara bagian harus bertanggung jawab mencari jalan keluar masalah ini,” demikian isi surat tersebut.

Kejadian lainnya datang dari penduduk yang harus mudik dengan berjalan kaki ratusan kilometer akibat kurangnya transportasi dan usaha yang ditutup hingga tak ada pemasukan yang menghasilkan uang.

Alhasil para perantau tersebut harus pulang dengan menyewa truk atau kendaraan lain secara bersama-sama rekan mereka yang satu tujuan. Sedangkan sebagian malah terpaksa berjalan kaki, termasuk Ranveer, seorang warga India yang meninggal dalam perjalanan mudik.

Menurut saksi, Ranveer jatuh pingsan di Kota Agra, sekitar 215 kilometer dari New Delhi. Padahal, jarak yang harus ditempur Ranveer untuk mencapai kampung halamannya di Distrik Morena, Madhya Pradesh mencapai sekitar 288 kilometer.

Seorang penjaga toko di jalan lintas provinsi yang melihat Ranveer pingsan langsung membantunya. Dia juga memberi teh dan makanan kepada Ranveer. Pada, Ranveer mengeluh dadanya sangat sakit. Tidak lama kemudian dia mengembuskan napas terakhir.

Menurut hasil otopsi yang dilaporkan oleh opsir polisi, Arvind Kumar, hasil autopsi usai kematian menunjukkan dia meninggal akibat serangan jantung tetapi kami meyakini hal itu dipicu kelelahan akibat menempuh perjalanan yang sangat panjang.

Pemerintah pusat India lantas memutuskan pemulangan penduduk besar-besaran ke kampung halaman mereka saat penerapan lockdown adalah bentuk pelanggaran. Mereka lantas mendesak seluruh negara bagian untuk menjamin makanan dan tempat tinggal bagi para perantau yang tidak bisa pulang dan tak punya pendapatan karena tempat usaha mereka harus tutup sementara saat lockdown.

Selain itu juga kelangkaan APD dan ventilator sangat langka di negara dengan penduduk terpadat nomor dua di dunia itu.

Dilansir dari Aljazeera, sejumlah rumah sakit menyatakan kelangkaan stok masker N-95 dan Alat Pelindung Diri (APD). Rata-rata jumlah tempat tidur rumah sakit di India adalah 0,7 untuk setiap 100.000 orang.

Rata-rata jumlah tempat tidur rumah sakit di India adalah 0,7 untuk setiap 100.000 orang.

Ventilator sendiri tersedia hampir 100.000 ventilator, tapi sebagian besar dimiliki rumah sakit swasta dan sudah dipakai pasien dengan penyakit kritis. Pada Jumat (27/Maret/2020) pemerintah mengatakan akan mengimpor 10.000 ventilator, tapi beberapa laporan menyarankan India sebaiknya menyediakan 70.000 ventilator.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tercatat ada 979 kasus virus corona di India, dengan 25 orang di antaranya meninggal.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, pada akhir pekan lalu sempat menyampaikan permohonan maaf kepada penduduk India yang merasa kecewa dan kesulitan akibat pemberlakuan lockdown.

Untuk mengatasi kekacauan ini, pemerintah India mengumumkan akan menyuntikkan paket stimulus fiskal sebesar 22,6 miliar dollar AS (sekitar Rp 362 triliun). Dana sebesar ini dialokasikan untuk transfer tunai dan langkah-langkah keamanan pangan. Selain itu juga untuk bantuan ke jutaan orang miskin yang terdampak lockdown nasional India.

Selain itu, untuk mengurangi kelaparan dan kelangkaan makanan, pemerintah berencana mendistribusikan 5 kilogram (kg) gandum atau beras untuk setiap orang secara gratis tiap bulan, dengan tambahan 1 kg untuk setiap keluarga berpenghasilan rendah.

Pemerintah juga akan menyediakan makanan ke sekitar 800 juta warga miskin selama 3 bulan ke depan. Bantuan juga akan diberikan berupa tabung gas memasak secara gratis ke 83 juta keluarga miskin.

 

Discussion about this post