Ketua LSM yang Diduga Peras Anggota Polri Rp 2,5 Miliar Ditangkap

LIDIK.ID , Jakarta – Ketua DPP LSM Tameng Perjuangan Rakyat Anti-Korupsi (Tamperak), Kepas Penagean Pangaribuan ditangkap polisi lantaran diduga melakukan pemerasan terhadap anggota Polri hingga Rp 2,5 Miliar. Selasa, (23/11).

Kepas diamankan pada Senin (22/11) kemarin sore di Jalan Palem V, Kelurahan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

“Pelaku yang diduga melakukan pemerasan terhadap anggota Polri awalnya meminta sampai Rp 2,5 Miliar,” ujar Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Hengki Haryadi kepada wartawan. Senin, (22/11).

Hengki mengatakan polisi kerap menerima aduan dari instansi pemerintah terkait LSM yang sering melakukan pemerasan.

Modus pelaku, dengan mendatangi kantor-kantor instansi dan memberi pernyataan diskredit ke instansi atau pimpinan lembaga untuk mendapatkan sejumlah uang.

Pemerasan tidak hanya dilakukan kepada anggota Polri, namun juga ke instansi pemerintah lainnya.

“(Pemerasan) terus dilakukan dengan membawa nama petinggi negara maupun TNI-Polri dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah uang,” kata Hengki.

Aksi Kepas terungkap ketika memeras anggota Satgas yang menangani pembegalan karyawati Basarnas.

Hengi tak menyangkal bahwa penanganan kasus begal berkembang ke kasus narkotika. Ada 5 orang pengguna narkoba ditangkap, dan 4 diantaranya telah dibawa ke tempat rehabilitasi.

Kepas menilai keputusan itu melanggar SOP dan memanfaatkan situasi untuk memeras anggota Polri. Pengancaman juga sempat dilakukan melalui media elektronik.

Hengki menyebut, pelaku membandingkan penanganan kasus serupa di berbagai daerah seperti Medan dan Jakarta. Itu cara dia melakukan pemerasan kepada anggota.

“Yang dianggap yang bersangkutan ini melanggar SOP dan terus dilakukan dengan  dengan membawa nama petinggi negara maupun TNI-Polri dengan tujuan untuk memperoleh sejumlah uang. Anggota kami sudah diperiksa Propam dan tidak ada suap menyuap itu anggota Satgas kami,” jelas Hengki.

Dari hasil penyelidikan, kasus pemerasan diduga tak hanya dilakukan di Jakarta Pusat.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 368 dan 369 KUHP dan/atau Pasal 27 Ayat (4) Undang-Undang ITE dengan ancaman hukuman 5 sampai 6 tahun penjara.

(MYG)

Discussion about this post