Jumat, 23 Februari 2024

Mahasiswi UMI Tewas Saat Pengkaderan, Orang Tua Minta Pihak Kampus Tanggung Jawab

LIDIK.ID , Makassar – Seorang Mahasiswi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tewas saat mengikuti pengkaderan Senat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Pihak keluarga meminta pihak kepolisian mengungkap penyebab kematian anaknya. Senin, (25/7/2022).

Korban bernama Zhafira Azis (20) tewas saat mengikuti pengkaderan di fakultasnya di Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Ia sempat dilarikan ke puskesmas setempat namun nyawanya tidak tertolong.

Baca Lainnya

Dilansir dari CNN Indonesia, Ayah korban yang bernama Abdul Azis mengungkap, bahwa sebelum berangkat anaknya dalam keadaan sehat, namun dia mendapat kabar dari pihak panitia bahwa Zhafira telah meninggal dunia.

“Saya tidak langsung percaya karena ketika anak saya berangkat dilengkapi surat sehat sama dan surat izin mengikuti kegiatan. Saya tanya, tolong video call ini lokasi karena saya takutnya terjebak dengan itu informasi, sempat penipuan atau apa. Setelah video call, infonya ternyata benar,” ungkap, Abdul Azis di Biddokkes Polda Sulsel, Minggu (24/7).

Azis menuturkan, jika benar ada dugaan kekerasan dalam proses pengkaderan tersebut, maka pihak kepolisian harus mengusut hingga sampai tuntas.

“Apapun itu penyebabnya entah hipotermia atau sebagainya yang jelas terjawab teka teki itu supaya dugaan saling mencurigai, kita kan tidak tau,” kata ayah korban, Abdul Azis, Minggu (24/7).

Ayah korban pun mencari tahu kronologis penyebab anaknya meninggal dunia ke pihak kampus dan petugas Puskesmas Tinggimoncong. Namun keterangan yang ia dapatkan ada perbedaan.

“Saya juga konfirmasi tadi dengan salah satu petugas puskesmas, ada perbedaan walaupun tidak signifikan,” ungkapnya.

Abdul Azis sangat menyayangkan adanya kejadian tersebut dan menjadikan sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa yang melakukan kegiatan di luar kampus.

“Inikan sangat disayangkan, ada anak mahasiswa aktif yang meninggal dalam kegiatan kemahasiswaan. Saya yakin punya izin dari lembaga sana,” tuturnya.

Abdul Azis pun meminta pertanggungjawaban terhadap pihak kampus atas meninggalnya korban saat mengikut pengkaderan di Malino, Kabupaten Gowa.

“Jadi setidaknya lembaga saya tidak meminta pertanggungjawaban secara hukum, tapi secara moril harus dipertanggungjawabkan karena mereka yang memberikan izin. Ini kegiatan fakultas bukan kegiatan luar kampus,” pungkasnya.

Sementara dokter Forensik Polda Sulsel, dr Deny mengatakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan visum luar terhadap jenazah seusai permintaan orang tua korban.

“Kami telah selesai melakukan pemeriksaan atau visum luar saja, sesuai permintaan orang tuanya,” kata Deny.

Meski demikian, Deny enggan membeberkan hasil pemeriksaan visum luar terhadap jenazah korban. Ia mengatakan pihaknya telah menyerahkan hasil pemeriksaan ke pihak Polres Gowa.

“Kalau hasilnya, sudah kami serahkan ke Kasat Reskrim Polres Gowa,” ujarnya.***

BeritaTerkait

Discussion about this post