Lidik.id, Kupang – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan klarifikasi terkait viralnya video seorang ibu yang mengeluhkan hadiah lomba karate yang diterima anaknya. Sang anak, yang meraih juara 1 dalam pertandingan karate pada Pameran Pembangunan NTT BaGaYa dalam rangka HUT ke-17 RI pada Agustus 2025, dijanjikan hadiah sebesar Rp2 juta. Namun hadiah yang sampai ke tangan keluarga hanya Rp300 ribu.
Video keluhan ibu asal Kupang itu menjadi viral setelah diunggah ke media sosial dan dibagikan ulang, salah satunya melalui akun TikTok @damasus96. Hingga Sabtu (29/11/2025), video tersebut telah ditonton 5,5 juta kali. Dalam videonya, sang ibu mengaku kecewa karena hadiah yang ditunggu selama tiga bulan ternyata jauh dari nominal yang diumumkan di hadapan publik saat penutupan pameran.
“Saya sebagai orang tua sangat kecewa karena pemberian hadiah itu disaksikan semua orang yang hadir saat penutupan pameran, itu Rp2 juta,” ujarnya dalam video itu.
Pemprov NTT Beri Penjelasan
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi NTT sekaligus Ketua Panitia Pameran Pembangunan 2025, Frederick Koenunu, menegaskan bahwa pembayaran hadiah dilakukan secara bertahap sesuai aturan keuangan pemerintah. Ia menjelaskan bahwa hadiah juara 1 senilai Rp2 juta disalurkan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi NTT, kemudian diteruskan kepada Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) NTT, sebelum akhirnya diberikan kepada atlet.
“Untuk kemudian dilanjutkan kepada induk organisasi olahraga NTT, dalam hal ini FORKI NTT kemudian disampaikan kepada atlet yang bersangkutan,” kata Frederick.
Frederick mengatakan pihaknya telah menjelaskan alur tersebut kepada orangtua atlet yang bersangkutan. Ia memastikan persoalan sudah diklarifikasi dan video keluhan yang sebelumnya viral telah dihapus. “Sudah di-takedown,” ujarnya.
Hadiah Dibagi ke Atlet Lain Atas Dasar Kebersamaan
Sekretaris Dispora NTT, Karel Muskanan, memberikan penjelasan tambahan terkait perubahan nominal hadiah yang diterima atlet. Setelah melakukan klarifikasi dengan pelatih, atlet, dan FORKI NTT, pihaknya menemukan bahwa sebagian hadiah tersebut dibagikan kepada atlet lain.
Menurut Karel, pembagian hadiah dilakukan sebagai bagian dari pembinaan karakter dan nilai kebersamaan antar atlet. Ia menyebut keputusan berbagi hadiah itu disepakati bersama oleh para atlet.
“Ada pembinaan karakter terkait kebersamaan, nilai solidaritas antar sesama atlet, sehingga besaran yang diterima itu mereka saling berbagi,” jelasnya.
Karel menekankan bahwa bukan nilai uang yang menjadi fokus, melainkan kebersamaan. Ia memastikan persoalan telah diselesaikan secara internal.
“Telah kami selesaikan bersama orang tua, atlet, dan FORKI yang dalam hal ini diwakili pelatih yang bersangkutan,” kata Karel.
Dengan klarifikasi ini, Pemprov NTT berharap polemik hadiah karate tersebut dinyatakan tuntas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman lanjutan.







Discussion about this post