Pro-Kontra Tahun Ajaran Baru, IGI Minta Geser Hingga 2021

LIDIK.ID, JAKARTA – Sebelumnya, pada awal Mei 2020 lalu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) telah mempersiapkan skenario dimulainya pembelajaran ajaran sekolah. Perencanaan itu dibuat untuk pembelajaran Juli, Agustus, Desember 2020, juga Januari 2021.

Kemenko PMK juga menuliskan konsekuensi dari setiap waktu dimulainya pembelajaran sekolah. Sebelumnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menyanggah rumor dimulainya pembelajaran di sekolah pada Juli mendatang.

Namun, Ikatan Guru Indonesia (IGI) meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggeser tahun ajaran 2020/2021 ke bulan Januari 2021. Hal ini terkait perkembangan wabah pandemi Covid-19 yang masih belum reda.

Seperti lansiran kompas.com Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia, Muhammad Ramli Rahim dengan sejumlah alasan penggeseran tahun ajaran 2020/2021 dalam keterangan tertulis. Ia memberikan beberapa alasan mengapa tahun ajaran harus dilakukan penggeran, yaitu sebagai berikut :

  1. Memberikan kepastian tahun ajaran baru bergeser ke Januari akan membuat dunia pendidikan memiliki langkah-langkah yang jelas terutama terkait minimnya jumlah guru yang memiliki kemampuan tinggi dalam menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Online. Dengan menggeser tahun ajaran baru, Ramli menyebutkan Kemendikbud bisa fokus meningkatkan kompetensi guru selama 6 bulan. Dengan demikian, di bulan Januari para guru sudah bisa menyelenggarakan PJJ berkualitas dan menyenangkan jika ternyata Covid-19 belum tuntas.
  2. Menggeser tahun ajaran baru menghindarkan siswa dan orang tua dari stress berkepanjangan. Siswa dan orangtua bisa terancam stress jika tahun ajaran baru tak digeser. Hal itu bisa terjadi karena orangtua yang stress memikirkan anaknya pergi sekolah dengan risiko terancam tertular Covid-19.
  3. Menggeser tahun ajaran baru menghindarkan siswa dari penularan Covid-19.
  4. Portal layanan pendidikan tak mampu menggantikan guru. Portal-portal pendidikan berbayar maupun gratis hanya disiapkan untuk menghadapi ujian atau seleksi tertentu, bukan memenuhi capaian kurikulum.
  5. Menggeser tahun ajaran menjadikan tahun anggaran selaras dengan tahun ajaran. Fakta lapangan menunjukkan berbedanya tahun anggaran dan tahun ajaran mengakibatkan kepsek harus berutang ke mana-mana agar bisa menyelenggarakan ujian nasional karena dana Bos belum cair.
  6. Pergeseran tahun ajaran bisa membantu orang tua mengatasi masalah ekonomi. Dengan anak didik kembali ke sekolah, bukan hanya kecemasan akan kesehatan yang datang tetapi juga biaya transportasi, biaya jajan dan biaya lainnya.
  7. Enam bulan ini bisa digunakan untuk mendorong lahirnya ide-ide baru atau kreativitas-kreativitas baru dari anak didik. Hal ini perlu difasilitasi oleh pemerintah terutama kemdikbud.
  8. Selama enam bulan ini Kemendikbud bisa berupaya maksimal memastikan seluruh sekolah di Indonesia terlayani jaringan internet dengan berbagai cara.
  9. Kemendikbud bisa segera menjalankan program digitalisasi sekolah dengan membagikan tablet terutama bagi sekolah yang paling banyak siswanya tak memiliki gadget.

Namun hal ini mengundang beberapa komentar dari warganet. Beberapa mengatakan bahwa guru seharusnya menyiapkan mental anak bangsa. Ada yang berdapat juga belajar tatap muka sangat dibutuhkan agar penerus bangsa tidak sulit saat memasuki ajaran baru yang tertunda cukup lama. Juga, tak sedikit siswa atau mahasiswa yang mengeluh tentang pembelajaran yang tak seimbang.

Hal itu dapat dilihat dari pantauan LIDIK.ID di media sosial twitter.

Dalam akun base pesan otomatis seseorang meminta pendapat dari warganet terkait diundurnya sekolah hingga Januari tahun 2021 mendatang.

“ada sisi positifnya juga ngga sih? kaya orang yang sekarang masa sekolahnya buruk alias di bully bisa healing buat memperbaiki mentalnya dulu sebelum balik lagi ke lingkungan itu” jawab pengguna @unicorelly.

Namun sseorang dengan nama pengguna @HotSaltiness menyahutiya, “Iya tpi kasian buat anak2 yang keluarganya broken tiap hari ribut”

“nnti pas d sruh nulis, tangan kaku dan bergetar, mata nyipit2 soalna min+silinder, udh dahhh” komentar @otaayaa

“Gua malah mikir, klo sekolah terpaksa dibuka ketika pandemi berlangsung + vaksin belum ada sama aja kayak memusnahkan setengah populasi penerus bangsa. Walau imunnya pada sehat, tetep aja kalau kena Corona, ga bakalan terawat intensif. Karena pasti bnyak korbannya.” ujar @bogskuy
Sementara Ramli mengatakan jika tahun ajaran baru tidak digeser, maka semua tanggung jawab Kemendikbud.
“Jika Kemendikbud tetap ngotot untuk tidak menggeser tahun ajaran baru maka semua masalah diatas harus bisa diatasi,” ujarnya.

Discussion about this post