Rayakan Hari Suci Nyepi, Bagaimana Umat Hindu di Dunia Merayakannya?

LIDIK.ID – Rabu, 25 Maret 2020. Seluruh umat Hindu di Indonesia merayakan hari Raya Nyepi seperti tahun-tahun sebelumnya pada Tahun Saka.

Hari Raya Nyepi merupakan hari pergantian tahun Isakawarsa yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada penanggal 1 sasih Kedasa. Nyepi memiliki filosofi dimana umat Hindu memohon kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, untuk melakukan penyucian Buana Alit (manusia) dan Buana Agung (alam dan seluruh isinya).

Baca Lainnya

Hari Raya Nyepi adalah hari yang sangat disucikan sebagai awal tahun. Untuk memulai tahun ke depan itu, umat Hindu lakukan introspeksi dan retrospeksi. Mereka juga menghitung berbagai hal yang sudah kami perbuat. Baik itu hal yang tidak bagus, yang bagus, dan seterusnya.

Apakah umat Hindu di Indonesia dan India melakukan perayaan Hari Suci dengan cara yang sama?

Ajaran agama Hindu yang bersumber pada kitab suci Veda dimanapun sama, namun pelaksanaannya berbeda. Faktor yang menjadi perbedaan dari cara perayaan di Indonesia dan India di antaranya lingkungan alam, sosial budaya dan lain sebagainya. Begitu pula hari-hari raya Hindu yang biasa dilakukan antara India dan di Indonesia, ada yang sama-sama dirayakan dan ada yang tidak. Persamaan dan perbedaan pelaksanaan kehidupan beragama ini menjadi kuasa dan mewarnai pelaksanaan agama Hindu. Cara penyebutannya pun berbeda, di Bali ada Siwaratri, di India ada Maha Purnima. Meski begitu, hakikatnya tetap sama.

Dalam perayaan Nyepi yang damai dan tentram ini, terdapat 4 larangan saat hari Suci Nyepi yang disebut dengan Catur Brata dan keempat larangan itu adalah

1. Amati Karya.

Amati Karya atau tidak bekerja. Tidak melakukan aktifitas pekerjaan dan evaluasi diri dalam kaitan dengan karya (kerja menurut swadharma kita masing-masing) merenung hasil kerja dalam setahun.

2. Amati Lelungan.

Berpantang menghibur diri atau melakukan kesenangan. umat Hindu harus berada di dalam rumah dan tidak boleh keluar dari pekarangan rumah. Hal ini, dilakukan agar fikiran manusia tidak liar, dan bisa mengendalikan hal-hal yang negatif.

3. Amati Lelanguan.

Tidak ada kegiatan yang dilakukan baik berupa makan, minum, menonton atau membuka ponsel pintar dan sebagainya. Hendaknya pada waktu penyepian orang berpuasa dan melakukan samadhi (duduk bersila dalam bentuk meditasi).
4. Amati Geni.

Tidak boleh menyalakan api. Menurut kepercayaan, api-api tersebut melambangkan emosi manusia antara lain adalah api amarah, nafsu, asmara, cemburu, iri, dan lain-lain.

Keluarga LIDIK.ID mengucapkan Selamat melaksanakan Catur Brata Penyepian dan selamat memasuki Tahun Baru Isaka untuk seluruh umat Hindu yang merayakan.

 

 

 

BeritaTerkait

Discussion about this post