Seorang Warga Tangerang Sebut Pemetaan Google Street View Langgar Privasi

LIDIK.ID , Tangerang – Salah seorang warga Tangerang bernama Khairul Anam, melayangkan protes terhadap pemetaan Google Street View dan Google Maps di komplek perumahannya, karena dianggap melanggar privasi. Senin, (25/10).

Protes tersebut dituliskan oleh Khairul Anam di akun pribadi Twitternya @maskhairulanam.

“Pemetaan google street dan google map @googleindonesia melanggar hak privasi dan tak berizin. Korbannya gw dan kompleks perumahan gw yang cluster,” tulisnya. Sabtu, (23/10).

Khairul juga sempat mengunggah foto mobil google street view dan google maps tersebut, namun dihapus karena nomor plat mobil terlihat jelas.

Saat ditanya oleh Khairul, sopir dalam mobil mengaku sebagai rekanan Google Indonesia yang ditugaskan untuk melakukan pemetaan, dari PT Kelly Service Indonesia.

Surat tugas juga diberikan oleh sopir dan telah di foto oleh Khairul.

“Terus pas kita tanya punya izin gak bikin pemetaan sampek masuk komplek perumahan? Dia nyodorin surat. Bukan izin, tapi SURAT ENDORSE sodara. @googleindonesia #GoogleLanggarPrivasi,” lanjut Khairul dalam unggahannya.

Perihal surat tersebut, Khairul menuliskan bahwa yang mengeluarkannya adalah Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Eko Sulistyo dan telah diteken pada tanggal 10 Agustus 2018.

Dilansir dari Tempo, surat yang dimaksud tertulis dengan Nomor B-16/KSP/D.IV/08/2018, sifatnya ‘segera’ dan hal tercantum ‘dukungan’. Surat diajukan kepada PT Google Indonesia dan Google LLC atas nama Nhazlisham Hamda.

Surat itu benar tertanggal 10 Agustus 2018, dan berisi pernyataan Kedeputian IV Komunikasi dan Diseminasi Kantor Staf Presiden memberi dukungan kepada Google untuk menangkap keindahan alam destinasi wisata prioritas dan arena terbaru sebagai tempat penyelenggaraan Asian Games 2018 melalui inisiatif Google Street View Collect.

Khairul menyebut komplek perumahannya tidak ada hubungannya dengan kesuksesan acara Asian Games 2018 itu. Selain itu, menurutnya jalan tersebut juga bukan jalan umum.

Kepada petugas, Khairul juga telah meminta untuk menghapus pemetaan kompleks perumahannya. Pihak petugas menuruti dan berjanji melakukan permintaan tersebut.

“Tolong PT Kelly Service Indonesia dan @googleindonesia untuk mentake down hasil pemetaan kompleks gw. Kompleks gw bukan jalan umum dan gak ada hubungannya sama kesuksesan Asian Games yang lo jadikan alasan buat foto-foto areal non publik seenaknya. #GoogleLanggarPrivasi,” tutup Khairul pada unggahannya.

Netizen lain, menanggapi cuitan Khairul di Twitter. Disebutkan pemetaan oleh Google tidak melanggar privasi, serta dianggap biasa lantaran untuk pelacakan alamat jika ingin mengirim barang, atau makanan yang memerlukan pendeteksian lokasi.

“Gimanaaa yaaaaa, saya mungkin kurang relate, lagian cuman street view. Kalau masalahin privasi, ya berarti gaboleh ada orang sama sekali yang masuk komplek masnya gitu? Kompleknya gaboleh diliat sama sekali karena masuk komplek rahasia negara apa gimana ya?,” tulis akun berinisial D.

Tapi ada beberapa yang menjawab memang ada pihak perumahan yang tidak mengizinkan pemetaan.

“Tergantung pihak perumahan (dalam hal ini RT/RW) mengijinkan atau tidak sih kayaknya. Dulu di sini waktu awal dibentuk pengurusan udah disepakati untuk menolak jika nanti ada permintaan seperti itu. Soalnya memang ada cluster yg mengijinkan mobil Google masuk, ada jg yg tidak,” tulis akun berinsial K.

(MYG)

Discussion about this post