Wabah Corona : Membuat Batas Untuk Ritual Hari Raya Nyepi dan Tanpa Ogoh-Ogoh

LIDIK.ID, Denpasar – Masyarakat Bali yang akan merayakan Nyepi Tahun Baru Saka 1942, (Rabu, 25 Maret 2020), tak dapat merasakan suasana perayaan seperti tahun-ahun sebelumnya karena merebaknya wabah virus Corona atau Covid-19.  Tak hanya hari perayaannya saja, sejak upacara melasti yang dilaksanakan mulai Sabtu-Minggu (21-22/Maret/2020) upacara penyucian atau tawur kesanga sebagai rangkaian Nyepi ikut telah terkena dampak.

Untuk mencegah penyibaran virus corona yang masih terus mewabah di Tanah Air bahkan dunia, masyakat Denpasar yang melakukan acara melasti dan tawur kesanga di masing-masing desa adat dengan jumlah yang dibatasi. Selain itu, pawai ogoh-ogoh yang semestinya berlangsung dengan iringan penonton sehari menjelang Nyepi juga ditiadakan. Ogoh-ogoh hanya boleh diarak di sekitar eilayah (wewidangan) banjar adat dan tidak boleh melibatkan banyak orang sesuai imbauan Pemerintah Denpasar.

Baca Lainnya

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak bergerombol dan berbondong-bondong datang ke acara ritual Tawur Kesanga tersebut, sebagai upaya penerapan pembatasan publik,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Kota Denpasar, Dewa Gede Rai di Denpasar, (Minggu, 22 Maret 2020)

“Melihat situasi dan kondisi saat ini, serta arahan Presiden dan Pemprov Bali, kami mengharapkan desa adat yang akan melaksanakan upacara Melasti, Tawur Agung Kasanga, maupun pangerupukan Nyepi, hingga pengarakan ogoh-ogoh, supaya pesertanya dibatasi. Bagi umat yang sakit atau merasa kurang sehat, jangan memaksakan diri ikut rangkaian upacara,” ucap Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali IGN Sudiana.

Duka akibat wabah COVID-19 ini membuat PHDI Bali mengambil kebijakan saat ritual pamelastian nanti. Ritual dilaksanakan untuk memohon keteduhan bumi, menghilangkan wabah yang tengah menyebar.

Menurut Dharma Upapati PHDI Bali, Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, upacara pamelepeh jagat ini berdasarkan beberapa lontar Bali yakni Lontar Roga Sangara Bumi, Lontar Dukuh Jumpungan, Lontar Baka Bumi, dan Lontar Darma Pemaculan, yang berbicara soal sasab merana dan segala grubug (wabah penyakit).

“Segala lontar tersebut kemudian diisi dengan Lontar Widhi Sastra yang pokoknya membicarakan pelaksanaan upacara pamelepeh jagat,” jelasnya.

Pengarakan ogoh-ogoh Nyepi Tahun Baru Saka 1942 nanti juga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena pengarakan ogoh-ogoh sifatnya tidak wajib, maka pengarakan sebaiknya tidak dilaksanakan. Jikalau tetap dilaksanakan, maka pelaksanaannya dibatasi pada Selasa 24 Maret  pukul 17.00 Wita sampai malam pukul 19.00 Wita dengan batasan pengarakan hanya di wewidangan banjar adat setempat.

“Memang kali ini ada sedikit perbedaan terkait ritual ini. Mengingat saat ini dalam masa peningkatan kewaspadaan terhadap virus corona (COVID-19) dengan melaksanakan ‘social distancing‘ dengan menjaga jarak terhadap sesama, dengan demikian kami berharap seluruh masyarakat dapat mengindahkan himbauan ini. Jadi untuk tirta diambil di masing-masing banjar adat,” kata Dewa Rai.

 

BeritaTerkait

Discussion about this post