LIDIK.ID, Lampung Selatan — Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menegaskan komitmen pemerintah memperkuat perhutanan sosial di Lampung Selatan melalui penyerahan ribuan bibit kakao dan kopi kepada kelompok tani sebagai upaya menjaga kawasan lindung tetap produktif dan berkelanjutan.
Di tengah perhatian global terhadap ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan, Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan, menjadi salah satu titik penting perhutanan sosial yang dikunjungi para duta besar negara Eropa. Momentum itu dimanfaatkan Zulhas untuk menunjukkan bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat berjalan bersamaan dengan upaya menjaga hutan.
Zulhas menyerahkan 3.000 bibit kopi dan kakao kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Way Kalam, didampingi lima duta besar dari Norwegia, Belanda, Prancis, Jerman, Belgia, serta perwakilan UNDP.
“Hari ini kita penanaman pohon dan pemberian bibit kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial. Ada 3.000 bibit di sini. Per orang 15 bibit untuk 200 penerima. Kalau kurang, saya tambah lagi,” ujar Zulhas.
Bantuan tersebut merupakan dukungan nyata untuk meningkatkan produktivitas hutan tanpa mengubah fungsi lindungnya.
Dalam dialognya dengan petani Way Kalam, Zulhas menegaskan pentingnya memilih komoditas yang menjaga daya serap air, seperti kopi, kakao, pala, dan buah-buahan hutan. Ia mengingatkan, tanaman semusim—seperti sayuran—dapat merusak tanah dan meningkatkan risiko banjir.
“Kalau pohon dipotong lalu diganti sayuran, di bawah bisa banjir. Betul ya?” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa hutan lindung tetap harus dijaga tanpa praktik yang merusak, namun boleh dimanfaatkan melalui panen buah dari tanaman yang sesuai.
Kehadiran para duta besar Eropa dan UNDP disebut Zulhas sebagai simbol kuat dukungan internasional terhadap penguatan ekonomi hijau di Lampung.
Bersama para diplomat itu, Zulhas juga ikut menanam bibit kopi dan kakao di area perhutanan sosial tersebut.
Menurutnya, keberhasilan Lampung Selatan dalam mengelola kawasan hutan berbasis masyarakat dapat menjadi model kerja sama global dalam konservasi dan peningkatan kesejahteraan petani.
Zulhas mengajak masyarakat untuk konsisten menjaga kawasan hutan lindung, mengingat kerusakan wilayah atas dapat langsung berdampak pada permukiman di bawahnya.
“Mau enggak kita bencana? Kita jaga. Hutan lindung ini enggak boleh diapapakan. Tapi boleh tanam durian, buahnya kita ambil,” kata Zulhas.
Ia menambahkan, pemerintah siap menambah kebutuhan bibit jika masih kurang, termasuk kemungkinan membeli langsung tanaman yang diperlukan masyarakat.
Kunjungan tersebut ditutup dengan penanaman simbolis bibit kopi dan kakao oleh Menko Pangan, para duta besar negara Eropa, dan perwakilan UNDP. Agenda ini sekaligus menegaskan komitmen kolaborasi internasional dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat desa.***
(TRS).







Discussion about this post