LIDIK.ID, Jakarta – PT Amartha Financial Group mencatat mayoritas portofolio pembiayaan usahanya justru tumbuh di luar Pulau Jawa. Dari total 3,7 juta mitra UMKM yang memperoleh penyaluran modal usaha, sekitar 60 persen berasal dari wilayah non-Jawa. Sabtu, (24/01/2026).
Founder & CEO PT Amartha Financial Group, Andi Taufan Garuda Putra, menyampaikan capaian tersebut dalam kegiatan Media Gathering: Digital untuk Desa, Potensi Fintech Dorong Ekonomi di Jakarta, kemarin, Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan, sejak berdiri pada 2010 hingga 2025, Amartha telah menyalurkan pembiayaan kumulatif sebesar Rp37 triliun kepada pelaku UMKM yang tersebar di sekitar 50 ribu desa di seluruh Indonesia.
“Sebanyak 60 persen mitra UMKM kami berasal dari luar Jawa. Ini menunjukkan potensi ekonomi desa dan wilayah perdesaan masih sangat besar jika didukung akses pembiayaan yang tepat,” ujar Andi Taufan.
Berdasarkan data perusahaan, nasabah platform fintech lending Amartha berasal dari berbagai sektor usaha. Sektor perdagangan mendominasi dengan porsi 53 persen, disusul sektor pertanian 23 persen, peternakan 9 persen, jasa 6 persen, serta industri rumah tangga dan sektor lainnya 7 persen.
Menurut Andi Taufan, diversifikasi portofolio pembiayaan lintas sektor tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga tata kelola dan manajemen risiko agar tetap sehat dan berkelanjutan.
Terkait kinerja perusahaan sepanjang 2025, Amartha mencatat penyaluran pembiayaan mencapai Rp13,2 triliun. Pertumbuhan perusahaan secara year-on-year (yoy) tercatat dua digit, di atas 20 persen, dengan tingkat kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) terjaga di kisaran 4 persen.
“Pertumbuhan Amartha tahun lalu tercatat double digit dan kualitas pembiayaan tetap terjaga,” katanya.
Ia menambahkan, pertumbuhan tersebut tidak hanya ditopang oleh penyaluran modal kerja, tetapi juga melalui pengembangan ekosistem layanan financial technology. Aplikasi AmarthaFin tercatat telah digunakan lebih dari 1 juta pengguna, sementara layanan Payment Point Online Bank (PPOB) melalui AmarthaLink telah menjangkau sekitar 50 ribu mitra.
Selain itu, Amartha juga mengembangkan produk investasi mikro yang diikuti oleh 130 ribu mitra, serta fasilitas penyaluran zakat sebagai bagian dari upaya memperluas inklusivitas keuangan, khususnya bagi masyarakat akar rumput di wilayah perdesaan.
“Kombinasi pemahaman pasar, produk yang relevan, tata kelola yang kuat, serta kemitraan dengan institusi global menjadi fondasi Amartha untuk terus tumbuh secara berkelanjutan,” pungkas Andi Taufan.***
(TRS).







Discussion about this post