Lidik.id, Jakarta – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan imbauan tegas kepada influencer dan dokter aktif di media sosial untuk tidak langsung mempublikasikan ulasan terkait skincare berbahaya dan produk dengan klaim berlebihan tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan BPOM.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk memastikan validitas informasi yang disampaikan kepada masyarakat sekaligus menghindari kesalahpahaman.
“Kalau ada influencer mendapatkan data, sebaiknya disampaikan dulu kepada kami untuk ditindaklanjuti,” jelasnya dalam acara di Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (18/1/2025).
Menurut Taruna, pengumuman klaim produk atau hasil uji laboratorium tanpa otoritas resmi dapat menimbulkan konflik di masyarakat dan merusak kepercayaan publik terhadap lembaga resmi.
BPOM juga menyoroti dampak buruknya terhadap keberlanjutan UMKM di sektor kosmetik. “Kalau ini terus berlangsung, kita hanya akan saling menjatuhkan, sementara pihak lain mengambil keuntungan,” ujarnya.
Sebagai bentuk kolaborasi, BPOM menggelar diskusi dengan 35 influencer dan content creator kosmetik di kantornya pada Jumat (17/1/2025).
Diskusi ini membahas isu seperti pengawasan post-market, izin edar, klaim produk, serta upaya mendukung daya saing produk lokal.
Pada sesi tanya jawab, beberapa influencer mengapresiasi langkah BPOM tetapi juga mengungkapkan harapan agar pengawasan lebih diperketat.
“Kami berharap, kolaborasi ini dapat menjadi wadah untuk edukasi yang lebih baik di media sosial,” kata salah satu influencer.
Namun, imbauan BPOM ini juga menuai reaksi beragam dari warganet di Instagram @bpom_ri.
Menurut @puspitadailly2, “Inget gak waktu gagal ginjal pada anak-anak gara-gara Paracetamol, lah ini masih untung masyarakat dibantu doktif biar pada sadar dan owner-owner-nya gak pada makin kaya. Aturan bersyukur lu BPOM.”
Ujar @belladinne, “Yang berhak review cuma BPOM? Netizen dah pinter, pak, bukkk, sukanya review dari orang biasa aja.”
Ada juga @tuta_rika yang berkomentar, “Banyak yang kecolongan, jadi selama ini BPOM kemana aja?”
Taruna menegaskan, edukasi masyarakat tentang kosmetik aman, berkualitas, dan sesuai regulasi adalah prioritas utama BPOM.
“Kami ingin ulasan influencer memiliki nilai edukasi yang jelas dan membantu masyarakat memilih produk yang aman,” tandasnya.
Dengan adanya imbauan ini, BPOM berharap peran aktif influencer dapat mendukung pengawasan produk kosmetik secara lebih efektif dan tidak memicu polemik di masyarakat.







Discussion about this post