Lidik.id, Bandung – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menanggapi kritik tajam yang dilontarkan pengamat politik Rocky Gerung dengan santai namun menohok. Rocky sebelumnya menyoroti gaya politik Dedi yang dinilai “dangkal” dan menyamakan pendekatannya dengan kebijakan ala militer yang tak mendorong proses berpikir kritis.
Dalam unggahan di akun Instagram resminya, @dedimulyadi17, Dedi terlihat santai berjalan di tengah hamparan sawah sambil menanggapi kritik Rocky dengan pernyataan filosofis.
“Saya memilih menjadi orang yang berpikiran dangkal namun melahirkan hamparan tanaman, daripada orang yang mengakui pikirannya dalam malah membuat banyak orang tenggelam,” ujar Dedi sambil tersenyum.
Ia pun menambahkan pesan positif bagi masyarakat untuk menyambut kritik dengan lapang dada, “Pagi semuanya, kita hadapi berbagai kritik dengan senyuman. Salam sehat bahagia selalu. Dengan melangkah, hidup akan menjadi berkah.”
Kritik Tajam Rocky: Visualisasi Bukan Visi
Rocky Gerung sebelumnya melontarkan kritik terhadap gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang dinilainya lebih menonjolkan aspek penampilan ketimbang substansi kebijakan. Ia menyebut pendekatan Dedi serupa dengan gaya blusukan Presiden Joko Widodo, mengandalkan kesederhanaan dan visualisasi di media sosial.
Mengutip pemikiran filsuf Prancis Guy Debord dalam The Society of the Spectacle, Rocky menilai masyarakat saat ini cenderung mengonsumsi penampilan dibanding substansi. Ia menyebut gaya politik seperti yang ditampilkan Dedi Mulyadi sebagai bentuk dari “kedangkalan yang laku di pasaran.”
“Jadi kita lagi menonton orang jualan komoditas yang namanya penampilan. Visualisasi, bukan visi,” ucap Rocky dalam pernyataannya, dikutip dari TribunJakarta.com.
Lebih jauh, Rocky juga menyinggung kebijakan Dedi yang mengirim remaja bermasalah ke barak militer sebagai bentuk pembinaan. Ia menganggap kebijakan ini tidak membina daya pikir, melainkan hanya mendisiplinkan tubuh—mengacu pada teori disciplinary society dari Michel Foucault.
“Barak itu mendisiplinkan tubuhnya, bukan mengajak berpikir. Hanya dalam masyarakat dengan IQ 78, kedangkalan itu bisa laku,” sindir Rocky.
Dedi Pilih Merespons dengan Aksi
Meski diserang secara intelektual dan filosofis, Dedi Mulyadi memilih tidak terpancing emosi. Justru, ia menampilkan citra yang semakin membumi dan menekankan kebermanfaatan nyata di lapangan.
Respons tenang Dedi seakan mempertegas identitas politiknya sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat dan lebih mementingkan aksi ketimbang debat teoritis. Dalam situasi ini, Dedi tampaknya justru membalik kritik menjadi alat untuk memperkuat posisinya di hadapan publik.
Kontroversi ini menunjukkan semakin tajamnya dinamika politik di tingkat lokal, di mana narasi dan simbol semakin memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik.







Discussion about this post