LIDIK.ID, Jakarta – Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla mengungkapkan fakta yang selama ini kerap luput dari perhatian publik: sekitar 75 persen masjid di Indonesia masih menghadapi persoalan serius pada sistem tata suara atau sound system. Masalah tersebut terutama berkaitan dengan aspek perencanaan, pemasangan, hingga pengoperasian perangkat akustik. Minggu, (26/01/2026).
Pernyataan itu disampaikan Jusuf Kalla saat membuka Pelatihan Akustik Masjid bagi 109 Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Jakarta, Minggu. Ia menilai, persoalan tata suara bukan sekadar teknis, melainkan berpengaruh langsung terhadap kualitas ibadah jamaah.
“Di seluruh Indonesia, sekitar 75 persen masjid itu punya sound system yang perlu diperbaiki operasionalnya. Yang memasang itu kadang-kadang anak-anak yang tinggal di masjid, jadi cara pasangnya yang penting bunyi,” ujar JK.
Menurut JK, banyak pengeras suara masjid dipasang tanpa perencanaan matang dan tanpa pemahaman akustik yang memadai. Akibatnya, suara yang dihasilkan justru tidak sesuai dengan fungsi masjid sebagai ruang ibadah yang menuntut ketenangan dan kekhusyukan.
Ia menekankan bahwa sistem tata suara masjid seharusnya disesuaikan dengan berbagai faktor, mulai dari ukuran dan kebesaran bangunan masjid, kondisi lingkungan sekitar, hingga karakter masyarakat setempat.
“Perubahannya besar padahal perlu. Harus sesuai dengan kebesaran masjid, suasana masyarakat, dan tidak asal pasang. Bukan membesarkan suara saja,” katanya.
JK mengingatkan bahwa penggunaan suara yang terlalu keras bukan hanya mengganggu lingkungan sekitar, tetapi juga berpotensi menghilangkan kekhusyukan jamaah saat beribadah.
“Masjid itu harus syahdu. Ini ibadah, bukan hiburan. Kalau hiburan mungkin orang bisa tidur, tapi ini ibadah, jadi harus syahdu,” tegasnya.
Melalui pelatihan tersebut, JK berharap para pengurus masjid memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya tata suara yang proporsional dan berkualitas. Dengan sistem akustik yang tepat, masjid diharapkan dapat menghadirkan suasana ibadah yang lebih nyaman, khusyuk, dan menenangkan bagi jamaah.***
(TRS).







Discussion about this post