LIDIK.ID, JAKARTA – Setelah tragedi jatuhnya pesawat Air India AI‑171 pada 12 Juni 2025 di dekat Ahmedabad yang menewaskan sekitar 241 orang, hanya satu penumpang yang selamat, Vishwash Kumar Ramesh, yang duduk di kursi 11A, yaitu kursi di deretan pintu darurat Boeing 787‑8 Dreamliner yang membuat pandangan masyarakat khususnya di India berubah terhadap kursi satu ini.
Kisah luar biasa Ramesh mendapatkan perhatian publik saat ia secara ajaib melalui pintu darurat dan selamat nyaris tanpa luka. Rekaman awalnya menunjukkan bahwa tubuh pesawat di baris 11A menabrak bangunan dengan cara yang memungkinkan pintu tetap terbuka dan menciptakan celah penyelamatan.
Namun para ahli penerbangan, seperti Jeff Guzzetti dari NTSB, menegaskan bahwa kemenangan Ramesh lebih karena keberuntungan dalam dinamika kecelakaan daripada posisi kursinya.
Hanya dalam hitungan hari, permintaan untuk kursi 11A, atau kursi baris pintu darurat pada umumnya, melonjak tajam di seluruh India. Agen perjalanan di Kolkata dan kota lainnya mengkonfirmasi adanya gelombang pemesanan kursi ini, bahkan banyak orang yang rela membayar biaya tambahan demi mendapatkannya, dengan harapan dapat “menangkap keberuntungan” Ramesh. Tren ini disebut efek “Viswash”, sebagai bentuk pengikatan psikologis dengan keselamatan yang semata berharap agar kursi yang sama membawa hasil yang sama.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh kisah langka lainnya, yaitu aktor dan penyanyi Thailand Ruangsak Loychusak, yang selamat dalam kecelakaan Thai Airways pada 1998 saat duduk di seat 11A, menambah narasi “kursi ajaib”.
Ia pun mengaku merinding mengetahui bahwa Ramesh selamat dari kursi yang sama 27 tahun setelah peristiwa serupa.
Namun semua ini belum berarti secara statistik. Studi independen terhadap data crash menunjukkan bahwa kursi paling aman biasanya adalah bagian belakang pesawat, bukan baris depan dekat pintu darurat. Meski kursi emergency exit memberikan ruang kaki ekstra dan jalur evakuasi cepat, hal tersebut tidak serta-merta meningkatkan peluang hidup saat crash.
Pakar seperti Stephen Wright dan Mitchell Fox menekankan bahwa setiap kecelakaan itu unik dan tidak ada kursi yang bisa menjamin keselamatan.
Seat 11A Sebenarnya Sangat Dihindari Penumpang
Sebelum tragedi AI‑171, kursi 11A justru sering dihindari oleh penumpang, bukan dicari. Alasan utamanya adalah kenyamanan dan pengalaman perjalanan, bukan faktor keselamatan.
Pertama, pada pesawat seperti Boeing 737, 11A sering kali tidak memiliki jendela. Sistem sirkulasi udara, terutama saluran ducting, menempati posisi di dinding samping tempat seharusnya ada jendela. Akibatnya, meskipun terlihat sebagai kursi dekat jendela, penumpang hanya melihat dinding kosong.
Keluhan dari forum penerbangan bahkan menyoroti rasa frustrasi setelah membayar kursi “jendela” tapi tak ada pemandangan sama sekali .
Kedua, posisi 11A biasanya berada di atas sayap dan dekat sistem pintu darurat. Ini mengakibatkan beberapa aspek yang membuat tidak nyaman, ruang kaki yang sempit, kebisingan mesin, dan lebih lama menerima layanan dari awak kabin, karena mereka melayani dari depan ke belakang atau lorong ke jendela. Waktu turun pesawat pun lebih lama karena berada di tengah kabin.
Ketiga, sebagai kursi pintu darurat, penumpang 11A tidak bisa menyimpan barang di bawah kursi saat takeoff dan landing, melainkan harus meletakkannya di bagasi atas. Maskapai juga sering meminta briefing khusus soal penggunaan pintu darurat, yang ditolak penumpang karena menambah tanggung jawab.
Entah sampai kapan FOMO seat 11A ini akan terus berlangsung. Karena bagaimana pun kenyamanan dan pengalaman penerbangan terbaik adalah keinginan semua penumpang, dan tak ada yang bisa menjamin keselamatan hanya di salah satu kursi.







Discussion about this post