Lidik.id, Jakarta — Buku memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya aktris Aurelie Moeremans menjadi fenomena literasi sekaligus perbincangan publik di Indonesia pada awal 2026. Memoar tersebut menarik perhatian luas karena mengangkat pengalaman pribadi penulis sebagai korban grooming saat remaja, topik sensitif yang jarang dibahas secara terbuka.
Sejak dirilis pada 10 Oktober 2025, Broken Strings perlahan menarik minat pembaca. Popularitasnya meningkat signifikan pada awal 2026 setelah viral di media sosial dan dibahas oleh warganet, pegiat literasi, serta aktivis perlindungan anak. Aurelie melalui akun media sosialnya menyebutkan bahwa buku tersebut telah dibaca puluhan ribu kali hanya dalam beberapa minggu, dan tersedia dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.
Dalam memoarnya, Aurelie menceritakan pengalaman hidupnya ketika berusia sekitar 15 tahun. Ia mengisahkan keterlibatannya dalam hubungan tidak sehat dengan seorang pria dewasa yang disebut dengan nama samaran “Bobby”, yang disebut hampir dua kali usianya saat itu. Hubungan tersebut awalnya digambarkan berjalan baik, namun kemudian berkembang menjadi relasi yang manipulatif, disertai kekerasan psikologis dan fisik.
Aurelie menuturkan bahwa pada usia remaja ia belum memahami bahwa perilaku yang dialaminya termasuk grooming, yakni proses manipulasi yang dilakukan secara bertahap untuk mengontrol dan mengeksploitasi anak atau remaja. Praktik grooming umumnya diawali dengan membangun kepercayaan sebelum berujung pada pelecehan emosional maupun seksual.
Kejujuran dan detail dalam penulisan memoar ini memantik respons emosional dari pembaca. Banyak warganet menyampaikan dukungan dan empati melalui kolom komentar media sosial, bahkan sebagian mengaku teringat pada pengalaman serupa yang pernah mereka alami. Sejumlah pembaca menyebut buku tersebut menggambarkan trauma korban dengan kuat dan kompleks.
Namun, di tengah dukungan luas, Broken Strings juga memicu kontroversi. Sejumlah spekulasi muncul di media sosial terkait identitas tokoh pria dewasa yang digambarkan dalam buku tersebut. Beberapa warganet mengaitkan karakter “Bobby” dengan sosok tertentu, meskipun hingga kini tidak ada pernyataan resmi maupun bukti hukum yang mengonfirmasi hal tersebut.
Perdebatan pun muncul di berbagai platform digital. Sebagian pihak menyerukan pentingnya keberpihakan pada korban dan perlindungan anak, sementara pihak lain mengingatkan agar publik tetap menghormati asas praduga tak bersalah dan tidak menghakimi individu berdasarkan spekulasi.
Di sisi lain, promosi buku ini juga sempat diwarnai insiden peretasan terhadap akun digital terkait. Menanggapi hal tersebut, Aurelie menyampaikan pernyataan yang kemudian viral, menegaskan bahwa pengalaman hidupnya tidak dapat dihapus meskipun ruang digital dapat diserang.
Dalam berbagai unggahan dan wawancara, Aurelie menyatakan bahwa penulisan Broken Strings bertujuan membuka ruang dialog tentang grooming, manipulasi, dan kekerasan terhadap anak dan remaja. Ia berharap kisahnya dapat meningkatkan kesadaran publik serta memberi kekuatan bagi penyintas lain untuk berani bersuara.
Viralnya memoar ini turut mendorong diskusi lebih luas mengenai perlindungan anak. Organisasi perlindungan anak mendefinisikan grooming sebagai tindakan manipulatif untuk mengeksploitasi anak atau remaja, yang sering kali tersamarkan sebagai perhatian atau dukungan. Publik pun didorong untuk lebih peka terhadap tanda-tanda grooming serta memperkuat peran keluarga, sekolah, dan komunitas dalam upaya pencegahan.
Melalui Broken Strings, pengalaman personal Aurelie Moeremans bertransformasi menjadi bagian dari diskursus sosial yang lebih luas, membuka ruang empati dan kesadaran terhadap isu kekerasan dan eksploitasi terhadap anak yang selama ini kerap tersembunyi.







Discussion about this post