Lidik.id, Raja Ampat – “Pak Bahlil, lihat kami!” seru Patrick Nathanael, pemandu wisata asal Raja Ampat, dalam sebuah video yang kini viral di TikTok. Patrick tidak sedang akting. Ia berbicara dari lokasi sesungguhnya, Pianemo, destinasi wisata yang jadi simbol surga bawah laut Indonesia, untuk menyampaikan keresahan yang dirasakan warga setempat.
Video berdurasi 3 menit itu menjadi pembuka dari jeritan kolektif masyarakat Raja Ampat yang menolak rencana tambang nikel di Pulau Batang Pele dan Pulau Manyefun. Kedua lokasi ini berada dalam kawasan Suaka Alam Perairan Raja Ampat, bagian dari UNESCO Global Geopark, dan rumah bagi 70% spesies karang dunia.
Patrick menyebut langsung nama Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, yang baru-baru ini berkunjung ke tambang Gag di Raja Ampat.
“Pak Menteri ke sana, tapi tidak datang ke sini, tempat yang akan terdampak langsung,” ucapnya dalam video tersebut.
Dengan nada penuh kecewa, Patrick mempertanyakan narasi pemerintah soal pembangunan berkelanjutan. “Yang mana mereka bilang masih baik-baik saja. Tapi siapa yang bisa jamin kalau tambang mulai bergerak di sini?”
Ia menyebut bahwa tambang hanya berjarak 29 km dari Pianemo dan 55 km dari Wayag, dua ikon wisata Raja Ampat. Bahkan lokasi itu juga merupakan koridor satwa laut langka seperti Pari Manta dan Paus Sperma, yang datang untuk berkembang biak dan membersihkan diri di sana.
“Tidak ada healing di alam yang rusak,” kata Patrick, menyindir tren wisata dan retorika promosi pemerintah yang menjual alam sambil merusaknya.
Patrick dengan lantang menegaskan bahwa warga lokal tak pasrah pada bantuan pemerintah. “Kami bangun resort, speedboat, semua dari uang sendiri. Bukan dari proposal ke DPR. Kami bukan masyarakat yang bergantung.”
Ia mengajak publik untuk ikut bersuara dan menyebarkan informasi ini. “Kalau video ini tidak viral, perjuangan kami bisa padam. No viral, no justice.”
Netizen Panas: “Pak Bahlil, Lihat Dampaknya Sebelum Terlambat”
Video Patrick langsung mengundang respons netizen, terutama dari kalangan pecinta lingkungan dan pegiat wisata. Akun @rimba\_badger mengingatkan: “Air itu bergerak. Pencemaran laut bukan masalah lokal, tapi menyebar luas. Ini bisa jadi bencana ekologis.”
Komentar pedas juga datang dari @deddyakhmad01 yang menyinggung gaya komunikasi pejabat publik, “Supir angkot jadi menteri ya begitu bacotnya…”—merujuk pada pernyataan Bahlil sebelumnya yang sempat viral.
Sementara @dyaneldiana mengungkap fakta bahwa izin eksplorasi di kawasan Gag sudah dimulai sejak zaman Orde Baru, dan masyarakat selama ini hanya bisa menahan gelombang besar investasi yang mengabaikan konservasi.
Pertaruhan Masa Depan Raja Ampat
Raja Ampat adalah rumah, tempat hidup, dan sumber penghidupan masyarakat Papua. Namun bagi investor, itu hanya ‘lokasi potensi tambang’. Dalam pertarungan ini, suara masyarakat kecil yang menjaga alam bertahun-tahun berhadapan dengan proyek besar bertanda tangan negara.
“Pak Bahlil, jangan cuma datang waktu panen investor. Lihat kami, yang menjaga negeri ini di ujung timur,” tutup Patrick.







Discussion about this post