LIDIK.ID, Jakarta – Prasasti Center for Policy Studies menilai capaian realisasi investasi Indonesia pada triwulan II 2025 menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian global. Data ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional yang semakin solid. Sabtu, (02/08/2025).
Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, mengungkapkan bahwa tren investasi yang terjaga memberikan keyakinan investor terhadap prospek jangka panjang perekonomian Indonesia.
“Momentum investasi tetap terjaga. Di tengah dinamika global yang menantang, fakta bahwa Indonesia mampu mempertahankan arus investasi ini mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek jangka panjang ekonomi kita,” kata Gundy.
Kementerian Investasi/Hilirisasi dan BKPM mencatat, realisasi investasi triwulan II 2025 mencapai Rp477,7 triliun atau naik 2,7 persen dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar Rp465,2 triliun.
Secara kumulatif, investasi sepanjang semester pertama tahun ini mencapai Rp942,9 triliun atau hampir 50 persen dari target tahunan sebesar Rp1.905,6 triliun.
Bappenas sebelumnya telah menetapkan target investasi nasional senilai Rp13.000 triliun dalam lima tahun ke depan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen per tahun.
Data BKPM menunjukkan sektor industri logam dasar menyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp67,1 triliun atau 14,1 persen dari total. Kinerja sektor ini ditopang oleh keberlanjutan kebijakan hilirisasi mineral.
Sektor pertambangan mencatat peningkatan signifikan dengan investasi Rp53,6 triliun berkat permintaan global terhadap nikel dan mineral strategis lainnya.
Sementara itu, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi mengalami penurunan menjadi Rp44,2 triliun.
Menariknya, sektor perdagangan dan reparasi untuk pertama kalinya masuk lima besar penerima investasi dengan capaian Rp40 triliun.
“Tren ini menunjukkan transformasi struktur ekonomi sedang berlangsung. Hilirisasi tetap menjadi magnet utama, namun munculnya sektor-sektor baru seperti perdagangan menunjukkan dinamika positif di lapangan,” jelas Gundy.
Realisasi investasi triwulan II 2025 ini menciptakan 665.764 lapangan kerja baru, naik 12 persen dibanding triwulan I. Hampir separuh di antaranya tercipta di luar Pulau Jawa, mencerminkan kemajuan dalam pemerataan pembangunan.
Namun, tantangan struktural masih ada. Pekerjaan formal masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan belum mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja yang mencapai 3,5–4 juta orang per tahun.
Gundy juga menyoroti risiko jangka menengah seperti otomatisasi, Sekitar 30 persen pekerjaan di sektor manufaktur dan pertanian berisiko tergantikan otomatisasi dalam 10-20 tahun ke depan.
Selain itu, 22-23 persen anak muda Indonesia saat ini tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Hal ini adalah peringatan serius bagi agenda pembangunan Indonesia.
Menurut Gundy, Indonesia tidak kekurangan modal. Tantangannya adalah memastikan aliran investasi masuk ke sektor-sektor yang mampu menciptakan pertumbuhan berkualitas dan lapangan kerja inklusif.
“Kita sudah memiliki momentum dan dasar yang kuat. Yang dibutuhkan sekarang adalah kombinasi kebijakan yang tepat: penguatan SDM, kepastian hukum bagi investor, dan pemerataan pembangunan antarwilayah. Fondasinya sudah ada. Tinggal bagaimana kita membangunnya dengan benar,” pungkasnya.***
(TRS).







Discussion about this post