LIDIK.ID, Mataram — Asap ban terbakar yang membubung di jalur lintas Bima–Sumbawa, Sabtu (6/12), menjadi penanda betapa rapuhnya ruang publik ketika ketegangan sosial meledak tanpa kendali. Di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, NTB, ketenangan warga mendadak pecah setelah tawuran pelajar berubah menjadi konflik antar dua desa yang memutus akses jalan nasional selama beberapa jam.
Blokade kayu, batu, dan ban terbakar menutup total jalur utama yang menghubungkan Bima–Sumbawa. Kejadian itu dipicu dugaan penganiayaan seorang pelajar SMAN 2 Bolo, namun merembet menjadi pertikaian yang melibatkan warga Desa Darussalam dan Sonco. Ketegangan menyebar hingga ke permukiman. Banyak keluarga memilih menutup pintu rapat-rapat, takut konflik meluas.
Warga kedua desa melakukan pemblokiran jalan sebagai bentuk protes atas lambatnya penegakan hukum. Mereka menuntut agar pelaku penganiayaan segera ditangkap. Situasi memanas ketika aparat berusaha membuka blokade, dan bentrokan tak terhindarkan.
Akibatnya, dua polisi mengalami luka akibat lemparan batu, sementara seorang warga diduga terluka karena proyektil atau benda tumpul.
Aparat TNI-Polri akhirnya berhasil membuka blokade, namun proses itu menyisakan trauma sosial yang tidak kasat mata.
Wilayah Bima bukan kali pertama dilanda konflik sosial semacam ini. Dalam beberapa tahun terakhir, gesekan antarkelompok warga sering kali bermula dari hal sepele—mulai kecelakaan lalu lintas, perselisihan remaja, hingga salah paham antar pemuda. Namun percikan kecil tersebut kerap membesar menjadi konflik komunal.
Lingkaran kekerasan ini memperlihatkan bahwa persoalan utamanya bukan hanya tawuran pelajar, melainkan lemahnya ikatan sosial dan minimnya ruang dialog.
Pemblokiran jalan menjadi simbol betapa strategisnya ruang publik dalam dinamika sosial. Jalan raya bukan hanya tempat kendaraan melintas, tetapi simbol kepercayaan publik terhadap negara.
Dalam kasus di Bolo, blokade muncul karena warga menilai proses hukum berjalan lambat. Ketika rasa ketidakpuasan bertemu solidaritas komunal, jalan raya menjadi arena protes.
Tren ini tidak hanya terjadi di Bima. Di berbagai daerah, pemblokiran jalan sering dipilih warga sebagai bentuk protes karena kanal aspirasi lain dianggap tidak efektif.
Meski situasi akhirnya tertangani, aparat menghadapi tantangan besar ketika massa terbawa emosi. Risiko gesekan hampir tak terhindarkan. Luka fisik mungkin sembuh cepat, namun luka sosial membutuhkan proses panjang untuk dipulihkan.
Tawuran pelajar di Bolo juga memperlihatkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan. Sekolah, yang idealnya membentuk karakter dan empati, sering kesulitan mengendalikan pelajar yang terjebak budaya kekerasan.
Rivalitas lama antar wilayah dapat muncul kembali melalui remaja. Ketika lingkungan sosial lebih sering menunjukkan kekerasan sebagai solusi, remaja menirunya. Ketika orang dewasa ikut memicu konflik, pesan damai semakin kabur.
Peristiwa di Bolo menjadi alarm penting untuk memperkuat ketahanan sosial. Terdapat beberapa langkah fundamental:
Penguatan komunikasi publik. Informasi cepat dan transparan dapat meredam emosi warga.
Ruang mediasi komunitas. Forum mediasi desa yang aktif mampu menghentikan konflik sebelum membesar.
Sekolah sebagai pusat pembentukan karakter. Pendidikan nilai kebangsaan, literasi sosial, dan pengelolaan emosi harus diperkuat.
Menjaga jalan raya sebagai ruang aman publik. Aspirasi perlu disalurkan melalui forum warga atau dialog terbuka, bukan pemblokiran jalan.
Bima memiliki sejarah panjang solidaritas komunitas. Nilai itulah yang seharusnya menjadi fondasi untuk mendorong warga memilih dialog daripada kekerasan.
Konflik di Bolo menjadi pengingat bahwa percikan kecil dapat membakar ruang yang luas ketika jaringan sosial melemah. Namun peristiwa itu juga membuka peluang bagi pemerintah, tokoh masyarakat, sekolah, dan warga untuk membangun kembali komunikasi, memperkuat empati, dan menata ulang ruang damai.
Jalan raya yang sempat terputus memang bisa dibuka kembali. Tetapi jalan menuju kepercayaan publik harus dibangun bersama dan dijaga setiap saat.***
(TRS).






Discussion about this post